Muswil DDI Sulawesi Barat, Teguhkan Pengabdian Keumatan dan Akselerasi Kemajuan Organisasi
MAMUJU (malaqbi.com) Musyawarah Wilayah (Muswil) Darud Da’wah wal Irsyad (DDI) Sulawesi Barat akan dilaksanakan di Asrama Haji Mamuju pada 10–11 Oktober 2026. Kegiatan ini menjadi momentum silaturahmi sekaligus konsolidasi organisasi untuk mempertegas kembali komitmen Addariyah dalam melanjutkan pengabdian kepada umat, khususnya di bidang pendidikan, dakwah, dan usaha sosial.
Koordinator Pelaksana Tugas Pengurus Wilayah DDI Sulawesi Barat, Dr. Nur Salim Ismail, menegaskan bahwa DDI memiliki modal historis dan kelembagaan yang kuat melalui penyelenggaraan pendidikan serta gerakan dakwah yang telah teruji selama puluhan tahun. Namun, kekuatan tersebut perlu terus dikembangkan agar organisasi mampu menjawab tantangan masa depan.
“DDI selain memiliki lembaga pendidikan serta gerakan dakwah yang telah teruji selama puluhan tahun, juga memiliki tantangan masa depan. Ada perubahan zaman yang berlangsung sedemikian cepat. Hal itu mengharuskan adanya upaya responsif yang relevan dengan apa yang kita hadapi saat ini,” ujar Nur Salim.
Menurutnya, perkembangan zaman menuntut organisasi untuk terus melakukan pembenahan dan penguatan kapasitas. Muswil menjadi kesempatan strategis untuk mengevaluasi perjalanan pengabdian, memperkuat konsolidasi internal, serta merumuskan arah pengembangan DDI agar semakin relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Penguatan organisasi, lanjutnya, perlu diarahkan pada akselerasi kemajuan melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan tata kelola kelembagaan, pembaruan strategi dakwah, serta pengembangan usaha sosial yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Tradisi keilmuan dan spiritualitas yang diwariskan para pendiri tetap menjadi fondasi, sementara inovasi dan pembaruan menjadi bagian penting dalam menghadapi dinamika kehidupan kontemporer.
Berakar dari Masyarakat, Bertumbuh Melalui Pengabdian
Darud Da’wah wal Irsyad lahir pada 11 Januari 1938 M atau 20 Dzulqaidah 1357 H, dengan Anregurutta Haji Abdurrahman Ambo Dalle sebagai tokoh sentral dalam pendiriannya. Dalam perjalanan sejarahnya, DDI memiliki karakter pertumbuhan yang khas karena berkembang dari akar rumput masyarakat, terutama di wilayah pedesaan, sebelum meluas ke berbagai kawasan perkotaan dan daerah lainnya.
Pedesaan menjadi salah satu basis historis terkuat DDI. Dari lingkungan masyarakat inilah tumbuh berbagai aktivitas pendidikan, dakwah, dan pembinaan keagamaan yang kemudian berkembang menjadi jaringan kelembagaan yang luas. Jejak pengabdian DDI dapat ditemukan di berbagai wilayah Indonesia, antara lain Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Kalimantan Timur, Jambi, Riau, dan daerah-daerah lainnya.
Karakter pertumbuhan tersebut memperlihatkan bahwa kekuatan DDI tidak hanya bertumpu pada struktur organisasi, tetapi juga pada kedekatannya dengan masyarakat. Tradisi pengabdian yang tumbuh dari desa menjadi modal sosial yang penting dalam menjaga keberlanjutan organisasi dan memperluas manfaatnya bagi umat.
Di Sulawesi Barat, kiprah DDI tercermin melalui keberadaan ratusan lembaga pendidikan yang mencakup pondok pesantren, perguruan tinggi, madrasah aliyah, madrasah tsanawiyah, madrasah ibtidaiyah, hingga raudhatul athfal. Jaringan tersebut menjadi bagian penting dari kontribusi DDI dalam pengembangan pendidikan Islam, pembinaan generasi muda, serta penguatan kehidupan keagamaan dan sosial masyarakat.
●Memperkuat Konsolidasi dan Sinergi Kelembagaan
Sementara itu, Pengurus Wilayah DDI, Amran HB, menjelaskan bahwa Muswil akan dihadiri oleh berbagai unsur dalam keluarga besar DDI di Sulawesi Barat. Peserta mencakup perwakilan pengurus daerah tingkat kabupaten, badan otonom, lembaga perguruan tinggi, serta seluruh madrasah yang bernaung di bawah DDI.
“Muswil ini akan dihadiri oleh perwakilan pengurus daerah di tingkat kabupaten, badan otonom, lembaga perguruan tinggi, dan seluruh madrasah yang bernaung di dalam DDI,” ungkap Amran HB.
Keterlibatan berbagai unsur tersebut diharapkan memperkuat komunikasi dan sinergi antarlembaga. Forum ini menjadi ruang untuk mempertemukan aspirasi, pengalaman, serta gagasan dari berbagai wilayah dan satuan pendidikan guna membangun arah pengembangan organisasi yang lebih terkoordinasi.
Konsolidasi tersebut penting mengingat luasnya jaringan pengabdian DDI di Sulawesi Barat. Potensi lembaga pendidikan, sumber daya manusia, dan aktivitas dakwah yang telah berkembang perlu dikelola melalui tata kelola organisasi yang kuat, koordinasi yang berkelanjutan, serta orientasi program yang terukur.
Pada saat yang sama, perubahan sosial-budaya, perkembangan teknologi digital, tuntutan peningkatan mutu pendidikan, dan kebutuhan terhadap tata kelola kelembagaan yang profesional menjadi tantangan yang perlu direspons secara terencana. DDI perlu memperkuat kemampuan adaptasi tanpa kehilangan identitas dan nilai-nilai perjuangan yang diwariskan para pendirinya.
Pembaruan tersebut dapat diarahkan pada peningkatan mutu pendidikan, pengembangan metode dakwah yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, pemanfaatan teknologi digital, serta penguatan usaha sosial yang berorientasi pada kemaslahatan umat. Dengan demikian, warisan perjuangan DDI dapat terus diaktualisasikan dalam bentuk pengabdian yang relevan dengan persoalan masyarakat masa kini.
Melalui Musyawarah Wilayah pada 10–11 Oktober 2026 ini, DDI Sulawesi Barat diharapkan semakin memperkokoh persaudaraan Addariyah, memperkuat sinergi antarlembaga, dan merumuskan agenda strategis bagi keberlanjutan organisasi.
Muswil ini pada akhirnya menjadi momentum untuk meneguhkan kembali bahwa kekuatan DDI terletak pada perpaduan antara warisan sejarah, kedekatan dengan masyarakat, dan kesanggupan melakukan pembaruan. Berakar pada tradisi keislaman dan tumbuh dari pengabdian masyarakat, DDI diharapkan terus berkembang sebagai organisasi yang responsif terhadap perubahan zaman serta konsisten berkontribusi melalui pendidikan, dakwah, dan usaha sosial. (*)
Koordinator Pelaksana Tugas Pengurus Wilayah DDI Sulawesi Barat, Dr. Nur Salim Ismail, menegaskan bahwa DDI memiliki modal historis dan kelembagaan yang kuat melalui penyelenggaraan pendidikan serta gerakan dakwah yang telah teruji selama puluhan tahun. Namun, kekuatan tersebut perlu terus dikembangkan agar organisasi mampu menjawab tantangan masa depan.
“DDI selain memiliki lembaga pendidikan serta gerakan dakwah yang telah teruji selama puluhan tahun, juga memiliki tantangan masa depan. Ada perubahan zaman yang berlangsung sedemikian cepat. Hal itu mengharuskan adanya upaya responsif yang relevan dengan apa yang kita hadapi saat ini,” ujar Nur Salim.
Menurutnya, perkembangan zaman menuntut organisasi untuk terus melakukan pembenahan dan penguatan kapasitas. Muswil menjadi kesempatan strategis untuk mengevaluasi perjalanan pengabdian, memperkuat konsolidasi internal, serta merumuskan arah pengembangan DDI agar semakin relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Penguatan organisasi, lanjutnya, perlu diarahkan pada akselerasi kemajuan melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan tata kelola kelembagaan, pembaruan strategi dakwah, serta pengembangan usaha sosial yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Tradisi keilmuan dan spiritualitas yang diwariskan para pendiri tetap menjadi fondasi, sementara inovasi dan pembaruan menjadi bagian penting dalam menghadapi dinamika kehidupan kontemporer.
Berakar dari Masyarakat, Bertumbuh Melalui Pengabdian
Darud Da’wah wal Irsyad lahir pada 11 Januari 1938 M atau 20 Dzulqaidah 1357 H, dengan Anregurutta Haji Abdurrahman Ambo Dalle sebagai tokoh sentral dalam pendiriannya. Dalam perjalanan sejarahnya, DDI memiliki karakter pertumbuhan yang khas karena berkembang dari akar rumput masyarakat, terutama di wilayah pedesaan, sebelum meluas ke berbagai kawasan perkotaan dan daerah lainnya.
Pedesaan menjadi salah satu basis historis terkuat DDI. Dari lingkungan masyarakat inilah tumbuh berbagai aktivitas pendidikan, dakwah, dan pembinaan keagamaan yang kemudian berkembang menjadi jaringan kelembagaan yang luas. Jejak pengabdian DDI dapat ditemukan di berbagai wilayah Indonesia, antara lain Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Kalimantan Timur, Jambi, Riau, dan daerah-daerah lainnya.
Karakter pertumbuhan tersebut memperlihatkan bahwa kekuatan DDI tidak hanya bertumpu pada struktur organisasi, tetapi juga pada kedekatannya dengan masyarakat. Tradisi pengabdian yang tumbuh dari desa menjadi modal sosial yang penting dalam menjaga keberlanjutan organisasi dan memperluas manfaatnya bagi umat.
Di Sulawesi Barat, kiprah DDI tercermin melalui keberadaan ratusan lembaga pendidikan yang mencakup pondok pesantren, perguruan tinggi, madrasah aliyah, madrasah tsanawiyah, madrasah ibtidaiyah, hingga raudhatul athfal. Jaringan tersebut menjadi bagian penting dari kontribusi DDI dalam pengembangan pendidikan Islam, pembinaan generasi muda, serta penguatan kehidupan keagamaan dan sosial masyarakat.
●Memperkuat Konsolidasi dan Sinergi Kelembagaan
Sementara itu, Pengurus Wilayah DDI, Amran HB, menjelaskan bahwa Muswil akan dihadiri oleh berbagai unsur dalam keluarga besar DDI di Sulawesi Barat. Peserta mencakup perwakilan pengurus daerah tingkat kabupaten, badan otonom, lembaga perguruan tinggi, serta seluruh madrasah yang bernaung di bawah DDI.
“Muswil ini akan dihadiri oleh perwakilan pengurus daerah di tingkat kabupaten, badan otonom, lembaga perguruan tinggi, dan seluruh madrasah yang bernaung di dalam DDI,” ungkap Amran HB.
Keterlibatan berbagai unsur tersebut diharapkan memperkuat komunikasi dan sinergi antarlembaga. Forum ini menjadi ruang untuk mempertemukan aspirasi, pengalaman, serta gagasan dari berbagai wilayah dan satuan pendidikan guna membangun arah pengembangan organisasi yang lebih terkoordinasi.
Konsolidasi tersebut penting mengingat luasnya jaringan pengabdian DDI di Sulawesi Barat. Potensi lembaga pendidikan, sumber daya manusia, dan aktivitas dakwah yang telah berkembang perlu dikelola melalui tata kelola organisasi yang kuat, koordinasi yang berkelanjutan, serta orientasi program yang terukur.
Pada saat yang sama, perubahan sosial-budaya, perkembangan teknologi digital, tuntutan peningkatan mutu pendidikan, dan kebutuhan terhadap tata kelola kelembagaan yang profesional menjadi tantangan yang perlu direspons secara terencana. DDI perlu memperkuat kemampuan adaptasi tanpa kehilangan identitas dan nilai-nilai perjuangan yang diwariskan para pendirinya.
Pembaruan tersebut dapat diarahkan pada peningkatan mutu pendidikan, pengembangan metode dakwah yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, pemanfaatan teknologi digital, serta penguatan usaha sosial yang berorientasi pada kemaslahatan umat. Dengan demikian, warisan perjuangan DDI dapat terus diaktualisasikan dalam bentuk pengabdian yang relevan dengan persoalan masyarakat masa kini.
Melalui Musyawarah Wilayah pada 10–11 Oktober 2026 ini, DDI Sulawesi Barat diharapkan semakin memperkokoh persaudaraan Addariyah, memperkuat sinergi antarlembaga, dan merumuskan agenda strategis bagi keberlanjutan organisasi.
Muswil ini pada akhirnya menjadi momentum untuk meneguhkan kembali bahwa kekuatan DDI terletak pada perpaduan antara warisan sejarah, kedekatan dengan masyarakat, dan kesanggupan melakukan pembaruan. Berakar pada tradisi keislaman dan tumbuh dari pengabdian masyarakat, DDI diharapkan terus berkembang sebagai organisasi yang responsif terhadap perubahan zaman serta konsisten berkontribusi melalui pendidikan, dakwah, dan usaha sosial. (*)
Komentar
Berita Terkait

DPD GMNI Sulbar: Pergantian Kapolda Mesti Jadi Momentum Berbenah

Program Taki Asuh Pemkab Mamuju Mulai Tunjukkan Hasil

BPBD Sulbar Pantau Asap Tebal di Pangale Mateng
