Dari Akademi PSM ke Bursa Ketua PSSI Sulbar, Febrianto Bawa Rekam Jejak Pembinaan Pemain
Namanya mencuat sebagai kandidat yang memiliki rekam jejak panjang dalam pembinaan pemain muda, khususnya melalui Akademi PSM Makassar yang berbasis di Kabupaten Mamuju.
Febrianto Wijaya dikenal sebagai sosok yang menekuni pengembangan sepak bola usia dini. Sejak 2018, ia menjabat sebagai Direktur Akademi PSM Makassar di Mamuju, dengan fokus pada pencarian bakat, pembinaan pemain, serta pengembangan talenta lokal agar mampu bersaing di level yang lebih tinggi.
Sebelum mengelola akademi tersebut, Febrianto Wijaya mendirikan Sekolah Sepak Bola (SSB) Mitra Manakarra di Mamuju.
Dalam perkembangannya, SSB tersebut diintegrasikan dengan Akademi PSM Makassar di wilayah Sulbar.
Langkah itu menjadi bagian dari upayanya membangun jalur pembinaan pemain yang lebih terstruktur, mulai dari kelompok usia dini hingga kelompok umur Elite Pro Academy (EPA) PSM Makassar. Bahkan dari level club, akademi PSM keluar sebagai juara untuk EPA U16 2021 dan EPA U18 2024.
Pengalaman Febrianto Wijaya di dunia sepak bola tidak hanya terbatas pada pengelolaan akademi. Ia juga memiliki latar belakang sebagai mantan pemain profesional PSM Makassar dan pernah menimba ilmu sepak bola di akademi VfB Stuttgart, Jerman.
Bekal tersebut menjadi modal dalam mengembangkan sistem pembinaan pemain muda, terutama melalui pencarian bakat atau talent scouting serta pendampingan pemain secara berjenjang.
Di bawah kepemimpinannya, Akademi PSM Makassar yang berbasis di Mamuju menjadi salah satu jalur pengembangan pemain muda asal Sulbar menuju kompetisi yang lebih kompetitif.
Sejumlah pemain jebolan akademi tersebut berhasil menembus skuad senior PSM Makassar. Terdapat sembilan nama yang masuk atau dipromosikan ke tim senior selama Febrianto Wijaya menjabat sebagai direktur akademi, yakni Edgard Amping, Muhammad Rafli Asrul, Renaldi, Fadel Muhammad, Prince Patrick Kallon, Muhammad Fahri, Muhammad Rifky Maulana, Muhammad Farhan Rahman, dan Firdaus Jufri.
Capaian tersebut menunjukkan pentingnya pembinaan berjenjang dalam membuka peluang bagi pemain muda untuk melangkah dari akademi menuju level profesional.
Selain mengantarkan pemain ke skuad senior PSM Makassar, jalur pembinaan akademi juga terhubung dengan perkembangan sejumlah pemain yang mendapat kesempatan memperkuat atau mengikuti pemusatan latihan tim nasional kelompok umur Indonesia.
Di antaranya Sulthan Zaky, bek tengah yang memperkuat Timnas Indonesia U-16 saat menjuarai Piala AFF U-16 2022 dan kemudian tampil bersama kelompok umur U-17.
Ada pula Ricky Pratama yang mendapat panggilan ke tim nasional kelompok umur U-22/U-23, serta Dimas Adi Prasetyo atau Dimas Adi, penyerang jebolan Akademi PSM Mamuju yang masuk skuad Timnas Indonesia U-17 untuk Piala Dunia U-17.
Nama lain yang turut mewarnai perjalanan pembinaan pemain muda PSM antara lain Rohmat Nurhidaya, M. Hendra, dan M. Gilang Perdana, yang pernah mendapat kesempatan mengikuti seleksi atau pemanggilan tim nasional kelompok umur
Sementara itu, sejumlah pemain muda PSM seperti Dzaky Asraf, Victor Dethan, dan Muhammad Ardiansyah juga memiliki pengalaman bersama tim nasional kelompok umur.
Perjalanan para pemain tersebut memperlihatkan bagaimana pembinaan akademi dapat menjadi salah satu pintu menuju sepak bola nasional.
Capaian para pemain itu menjadi bagian dari rekam jejak pembinaan yang melekat pada Akademi PSM Makassar di Mamuju selama Febrianto Wijaya terlibat dalam pengelolaannya.
Di luar aktivitasnya di lapangan, Febrianto Wijaya juga menjalankan tugas sebagai legislator di DPRD Kabupaten Mamuju dari Partai Demokrat. Peran tersebut memberinya ruang untuk ikut memperjuangkan kebutuhan pembangunan daerah, termasuk fasilitas dan pengembangan sepak bola.
Pengalaman di dunia olahraga dan pemerintahan daerah menjadi dua bidang yang berjalan beriringan dalam perjalanan kariernya.
Dengan latar belakang sebagai mantan pemain, pengelola akademi, dan legislator, Febrianto Wijaya kini masuk dalam proses pemilihan Ketua PSSI Sulbar sebagai satu-satunya pendaftar.
Kehadirannya dalam bursa pemilihan tersebut membuka harapan terhadap penguatan pembinaan usia dini, peningkatan kualitas kompetisi daerah, serta perluasan kesempatan bagi pemain muda Sulbar untuk menembus level profesional dan tim nasional.
Namun, tantangan sepak bola Sulbar tidak berhenti pada pembinaan pemain. Penguatan kompetisi antarklub, peningkatan kualitas pelatih dan perangkat pertandingan, pembenahan infrastruktur, serta tata kelola organisasi juga menjadi pekerjaan penting bagi kepengurusan PSSI Sulbar ke depan.
Dengan pengalaman yang dimilikinya, Febrianto Wijaya menghadapi momentum penting untuk membawa gagasan pembinaan yang selama ini dijalankan di tingkat akademi ke dalam cakupan sepak bola Sulbar secara lebih luas.
Statusnya sebagai bakal calon tunggal menempatkannya sebagai figur utama dalam proses pemilihan Ketua PSSI Sulbar 2026 hingga 2030. Meski demikian, penetapan ketua tetap mengikuti mekanisme dan keputusan resmi sesuai ketentuan organisasi.
Bagi sepak bola Sulbar, proses ini menjadi kesempatan untuk mendorong pembinaan yang lebih terarah, memperkuat kompetisi lokal, dan memastikan semakin banyak talenta dari daerah memperoleh kesempatan berkembang hingga ke panggung nasional. (*)